Beranda Banten Puluhan Hektar Lahan Perhutani di Utara Tangerang Diduga Dicaplok Mafia Tanah

Puluhan Hektar Lahan Perhutani di Utara Tangerang Diduga Dicaplok Mafia Tanah

56
0
Ilustrasi

Puluhan hektar lahan milik Perum Perhutani di bawah naungan Unit III Jawa Barat (Jabar) dan Banten yang berlokasi di 5 (lima) desa di kawasan Laut Kabupaten Tangerang diduga telah di Caplak oleh Mafia tanah. Hal tersebut disampaikan oleh H. M Muchdi AR selaku Ketua LSM Badan Penelitian Aset Negara Republik Indonesia (BPAN – RI ) pada Kamis (15/07/2021) siang, di kantornya di jalan Suka Bakti ll Kelurahan Suka Sari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.

“Puluhan hektar lahan milik Perum Perhutani di bawah naungan Unit III Jabar dan Banten, lahan yang awalnya merupakan kawasan hutan mangrove itu, diduga karena sudah beralih kepemilikan dari awalnya milik Perhutani menjadi lahan sertifikat hak milik (SHM) perorangan warga setempat,” kata Muchdi.

Dirinya menjelaskan bahwa, Pembebasan lahan oleh salah satu pengembang besar yang saat ini sedang gencar melakukan pembebasan di wilayah Utara Kabupaten Tangerang.

“Berdasarkan data yang didapat, lahan milik Perhutani yang hilang tersebut mencapai puluhan hektar, lokasi yang berada di wilayah pesisir utara Kabupaten Tangerang itu meliputi empat desa, yaitu Desa Salembaran Jaya, Kecamatan Kosambi, dan Desa Muara, Desa Tanjung Pasir, dan Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga,” terangnya.

Diduga hilangnya lahan milik Perhutani tersebut terjadi pada bulan mei 2010 yang melibatkan oknum pejabat Perhutani.

“Dugaan modus yang dilakukan adalah dengan mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan kawasan tersebut, bukan milik Perhutani, namun milik pribadi, kemudian dilakukan jual beli dengan oknum spekulan (mafia tanah) berinisial AG yang kemudian ditingkatkan haknya menjadi sertifikat hak milik (SHM). Oleh AG (inisial) kemudian tanah ini beralih hak menjadi milik PT KM yang menjadi SHGB,” ungkapnya.

Mulusnya, penyerobotan dan pencaplokan tanah milik Perhutani oleh mafia tanah ini, diduga melibatkan oknum Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang dalam memuluskan legalitas kepemilikan tanah yang sebenarnya milik negara tersebut.

“Salah satu  contoh  modus kasus itu, surat keterangan dari Perum Perhutani Unit III Jabar dan Banten yang ditandatangani oleh Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Tangerang,” ucap Muchdi.

Hasil penelusuran yang didapat dilapangan bahwa kanwil BPN Banten sempat melakukan pemanggilan terhadap AG terkait persoalan itu, karena adanya laporan dari Perhutani terkait dugaan hilangnya lahan milik perhutani.

“Pemanggilan tersebut terkait oknum bernama Asep Sobandi. Pada tahun 2010 lalu, yang menyatakan bahwa tanah milik warga atas nama Limar warga Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga seluas 43.270 m2.  Bukan milik Perhutani. Oleh LR (inisial) kemudian tanah ini diperjualbelikan dengan spekulan dengan AG, kemudian meningkatkan menjadi Surat Hak Milik (SHM),” tuturnya.

Sementara itu, adminstratur Perum Perhutani KPH Banten, Nurrohman mengatakan, Bahwa saat ini pihaknya tengah menginventarisir aset perhutani yang ada di wilayah pesisir Kabupaten Tangerang, karena menurut petugas terdapat beberapa aset tersebut tengah bersengketa dengan pihak tertentu.

“Untuk luasnya saat ini kami sedang melakukan pendataan bidang lahan Perhutani yang ada di wilayah tersebut, menurut petugas kami ada indikasi tumpang tindih kepemilikan, jadinya tengah kami kroscek,” jelasnya melalui telepon seluler, Kamis (15/7/2021) siang.

Menurutnya, kejadian ini pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait, karena untuk hal ini pihaknya menginginkan hasil yang baik. Lahan Perhutani yang berada di wilayah pesisir Tangerang Utara sejatinya adalah hutan mangrove, yang bisa mengurangi deburan ombak yang bisa mengakibatkan abrasi. Dirinya mengharapkan nantinya hutan lindung atau hutan mangrove yang berada di kawasan pesisir Tangerang Utara tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat setempat.

“Masyarakat setempat bisa saja mengelola hutan lindung tersebut, dan bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi maupun sarana lainnya,” pungkasnya.|MCB/TS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here